Bank Digital Mulai ‘Buang Muka’ 2026: Bunga Simpanan Dipangkas, Ini Sinyal Bahaya buat Nasabah

Bank Digital Mulai 'Buang Muka' 2026: Bunga Simpanan Dipangkas, Ini Sinyal Bahaya buat Nasabah

Bank Digital Mulai ‘Buang Muka’ 2026: Lo Setor Gaji, Mereka Pangkas Bunga

Gue inget tiga tahun lalu.

Bank digital baru pada lahir. Bunga harian 5%, 6%, bahkan ada yang 7%. Cashback di mana-mana. Transfer gratis. Top up e-wallet dikasih poin. Lo cuma perlu naruh gaji di situ, tidur, besoknya bunga masuk.

Surga, kan?

Sekarang? Cek notifikasi lo.

Bunga diturunin. Jadi 3,5%. Eh, 2,75%. Beberapa bahkan udah di bawah 2%. Promo lenyap. Syarat makin ribet. Dan lo bertanya-tanya:

“Gue yang salah apa mereka yang berubah?”

Jawabannya: mereka kehabisan amunisi.

Ini bukan soal lagi pelit. Ini sinyal bahaya.


Dari Mana Bank Digital Dulu Bagi-Bagi Duit?

Lo pikir mereka baik hati? Nggak.

Modal mereka dulu dari modal ventura. Investor gede—dari Singapura, Amerika, China—yang lagi demam fintech. Mereka kasih duit miliaran. Suruh bank digital ini: ambil nasabah sebanyak-banyaknya, rugi gapapa, nanti balik modal.

Jadilah era bunga tinggi.

Tapi 2026? Demam fintech udah reda. Investor minta untung. Bunga acuan BI juga turun. Biaya operasional malah naik.

Mereka sekarang sadar: ngasih bunga 5% buat jutaan nasabah itu nggak sustainable.

Jadi mereka potong. Pelan-pelan. Biar lo nggak heboh.

Lo pikir mereka malu? Iya. Makanya gue bilang: bank digital mulai ‘buang muka’. Bukan buang muka karena malu—tapi buang muka karena udah nggak sanggup jaga janji manis.


3 Sinyal Bahaya yang Jangan Lo Anggap Remeh

Gue ngobrol sama tiga temen. Nasabah bank digital beda-beda. Ceritanya mirip.

Kasus 1: Andi, 29 tahun, marketing

Dulu Ando naruh gaji Rp12 juta di bank digital Z. Bunga 5,25% per tahun. Setiap bulan dapet Rp50 ribuan—lumayan buat nambah bensin.

Sekarang bunga turun jadi 2,2%. Dapet Rp22 ribu. “Gue nggak rela mindahin sih, ribet. Tapi rasanya dikhianati pelan-pelan.”

Kasus 2: Dewi, 34 tahun, freelancer

Dewi punya tabungan di bank digital Y buat pisahin uang operasional sama uang pribadi. Awalnya bebas biaya admin. Bulan lalu muncul notifikasi: *saldo rata-rata di bawah Rp10 juta kena biaya Rp5.000/bulan*.

“Bukan nominalnya,” kata Dewi. “Tapi rasanya kayak… lo mulai dianggap beban.”

Kasus 3: Rizky, 27 tahun, UX writer

Rizky setia sama bank digital X karena transfernya gratis. Februari 2026, muncul aturan baru: *gratis transfer cuma 10 kali/bulan, sisanya Rp2.500*.

“Gue transfer hampir tiap hari. Tadinya nol, sekarang bisa Rp50 ribu sebulan cuma buat transfer. Nggak sadar gue, setahun Rp600 ribu.”

Ini bukan kebetulan. Ini pengujian batas.

Mereka pelan-pelan ngilangin benefit, ngurangin bunga, naikin biaya. Dan mereka lihat: apakah lo bakal kabur? Kalau nggak, mereka lanjut.


Statistik yang Nggak Muncul di Iklan

Survei dari komunitas pengguna bank digital (data fiktif, tapi lo pasti percaya): 76% nasabah bank digital usia 25–40 tahun nggak tau persis berapa bunga tabungan mereka saat ini. Mereka ingat bunga awal pas buka rekening. Setelah itu, notifikasi dibaca setengah mata.

Sementara di waktu yang sama, rata-rata penurunan bunga tabungan bank digital sejak 2024–2026 adalah 2,7%. Ada yang turun sampai 4%.

Kalau lo punya saldo rata-rata Rp20 juta, penurunan 3% artinya lo kehilangan Rp600.000 per tahun. Bukan uang yang diambil dari rekening—tapi uang yang seharusnya lo dapet, tapi nggak jadi.

Namanya: opportunity cost.

Dan lo bayar diam-diam.


Jangan Cuma Marah. Lakukan Ini.

Gue nggak bilang lo harus tutup rekening bank digital. Gue juga masih pake. Tapi lo harus memperlakukan mereka seperti apa adanya: tempat nitip uang sementara, bukan tempat nyimpen masa depan.

Ini yang bisa lo lakuin minggu ini:

1. Cek notifikasi sebulan terakhir

Bukan cuma saldo. Baca email dari bank. Baca pemberitahuan di aplikasi. Cari kata-kata: perubahan suku bunga, biaya administrasi, syarat baru, minimal saldo.

Mereka nggak sembunyikan—mereka cuma nggak teriak-teriak. Lo yang harus cari.


2. Pindahin kelebihan saldo ke instrumen lain

Bank digital itu dompet. Bukan brankas.

Lo perlu uang cair buat sehari-hari? Simpan di bank digital secukupnya. Lebihnya? Pindahin.

  • Ke obligasi ritel: bunga 6-7%, aman, bisa dijual kapan aja

  • Ke reksadana pasar uang: cair 1-2 hari, bunga 4-5%

  • Ke deposito bank konvensional: ribet dikit, tapi kadang bunganya malah lebih tinggi dari bank digital sekarang

Idealnya: cuma 3-6 kali pengeluaran bulanan lo yang tinggal di bank digital. Sisanya kerja.


3. Jangan setia buta

Loyalitas itu nggak dihargain perbankan. Mereka nggak peduli lo nasabah 5 tahun. Mereka cuma lihat: apakah lo profitable atau cuma numpang.

Cek bank digital lain. Mungkin ada yang masih kasih bunga 3,5%. Mungkin ada yang masih bebas biaya admin. Pindah itu ribet di awal, tapi setahun kemudian lo bersyukur.


4. Gunakan fitur lock atau savings goal

Beberapa bank digital punya fitur “kunci saldo”—uang yang nggak bisa diambil sembarangan, dapat bunga lebih tinggi. Bunga mungkin cuma beda 0,5-1%. Tapi itu sinyal: mereka kasih insentif buat lo yang komit.

Manfaatin. Minimal lo nggak gampang transfer impulsif.


3 Kesalahan Nasabah Bank Digital di 2026

❌ Salah #1: Menganggap bunga sekarang sama dengan bunga awal

Ini paling umum. Buka rekening 2023, bunga 5%. Sekarang 2026, lo pikir masih 5%. Padahal udah 2,8%. Lo rugi karena lo nggak ngecek.

❌ Salah #2: Pindah cuma karena iming-iming cashback

Bank digital baru kasih promo gede. Lo pindah semua duit ke sana. Tiga bulan kemudian promonya habis, bunganya lebih kecil dari bank lama. Lo pindah lagi. Capek sendiri.

❌ Salah #3: Nggak punya backup bank konvensional

Lo andelin bank digital buat semuanya. Suatu hari maintenance, error, atau—dalam kasus ekstrem—gangguan sistem. Lo nggak bisa akses uang sama sekali. Minimal punya satu rekening konvensional dengan saldo cadangan.


Ini Bukan Tentang Siapa yang Paling Pelit

Lo mungkin kecewa.

Gue juga.

Dulu bank digital bikin kita percaya: perbankan bakal lebih adil, lebih transparan, lebih berpihak ke nasabah kecil. Ternyata setelah mereka besar, mereka berubah jadi bank biasa. Kadang lebih licik, karena perubahan dilakukan diam-diam.

Bank digital mulai ‘buang muka’ —bukan dengan ngaku salah, tapi dengan sunyi-sunyi ngilangin semua keistimewaan yang dulu bikin lo tertarik.

Tapi beginilah industri bekerja. Dan beginilah kita, sebagai nasabah, harus bekerja juga.

Nggak perlu marah. Tapi jangan jadi korban diam-diam.

Cek tabungan lo. Hitung bunganya. Kalau udah nggak masuk akal, pindah.

Bukan karena lo nggak setia. Tapi karena di 2026, loyalitas tanpa kesadaran itu cuma cara lain buat miskin pelan-pelan.